Mungkin, menulis adalah jalan terakhir untuk hati melepaskan diri dari rasa sesak sendirian. Ketika sebuah pengertian dimintai kehadirannya namun tak jua nampak. Perempuan itu sama sekali tidak mengerti keegoisan seorang lelaki yang teramat sangat. Kalau dulu kamu pernah bertanya "sebenarnya siapa yang egois diantara kita semua?" dan waktu itu saya hanya menangis tersedu-sedu. Enggan menjawab apakah itu kamu, aku atau dia. Namun seandainya pertanyaan itu terulang kembali, maka saya akan dengan lantang menjawab "kamu yang egois! Kamulah orangnya."
Tapi tak perlulah mempermasalahkan keegoisan karna itu bisa datang kepada siapa saja. Mungkin denganku saat ini. Namun, apakah tidak terlalu egois untuk menyebut perempuanmu egois ketika semua sabar dan rasa sakit yang kamu beri?
Dia bahkan dengan sangat sabar menghadapimu yang sekeras batu, meski terkadang hatinya meronta-ronta. Bukan bermaksud bagaimana, tapi di luar sana apa masih ada perempuan seperti perempuanmu yang hatinya kuat dan mampu menerima kamu yang sebegitunya? Kamu yang paling tau seperti apa dirimu. "Perempuan manapun tidak akan rela kasihnya dibagi, dengan siapapun."
Mungkin di luar sana, banyak yang lebih darimu tapi dia bertahan denganmu. Karna baginya, ini bukan hubungan pacaran yang biasa. Kita sudah bukan anak-anak lagi.
Meskipun, aku ataupun kamu tak bisa menebak akhirnya akan seperti apa karna itu adalah rahasia Allah.
Dan seperti sebuah akhir cerita, kita pasti berharap happy ending. Seperti lelahku yang saat ini ingin bermuara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar