Rabu, 10 Juli 2013

Greatest men have gone



Mungkin, cerita kali ini akan menjadi cerita yang paling menyedihkan sepanjang cerita yang pernah ada. Ini bukan tentang kisah asmara, juga bukan cerita tentang dunia perkuliahan atau sekedar coretan mahasiswi galau. Ini adalah true story tentang hidup, tentang tawa yang berganti air mata dan tentang pahitnya kehilangan.
Sebelumnya, pernah ada cerita yang sempat aku posting judulnya “ senyum kakek “ . ceritanya waktu bulan November tahun lalu, waktu pertama kali tahu bahwa kakek terserang penyakit yang serius, dan langit kembali gelap.
Kakek. Yang biasanya aku sapa dengan panggilan lato’. Sosok yang akan selalu aku rindukan, sosok yang tentangnya akan abadi dalam kenangan. Tipekal orang penyabar, diam dan sangat peduli terhadap sesama, terlebih kepada keluarganya. Really miss you my grandfha. :’(
Dari kecil, aku selalu di rumah kakek. Besar di sana. Makanya aku sangat dekat dengan beliau, apalagi sama nenek. Tidak jarang aku memanggilnya dengan sebutan mama. Kebiasaan. kakek yang dari aku kecil selalu merawat dan memberikan semua yang terbaik kepada cucunya. Selalu membuat aku merasa special dibandingkan yang lainnya, hmm terlepas dari predikat cucu pertama :D tapi actually, kakek tidak pernah membeda-bedakan. Kasih sayang, kepeduliannya hingga sesuatu yang berbau materipun beliau bagi sama rata. Itu sebabnya, beliau dikenal baik oleh keluarga dan kerabat lainnya.
Sebenarnya, story all about my grandfha mau diposting jauh sebelum hari ini. Tetapi kesibukan yang ntah apa, semua jadi terhambat sampai akhirnya berita duka itu datang :’(
Sebenarnya lagi, aku hanya mau cerita bagian yang ini :
Minggu, 30 juni 2013. Hari itu aku ada kegiatan penggalangan dana buat reuni akbar sekolahan. Paginya ke pantai losari buat jualan kue dan pakaian. Habis itu, balik ke rumah, terus makan siang rame-rame sama teman-teman, dan diakhiri dengan jalan ke mall, temani adek yang bela-belain ke mks buat nonton film coboy junior, bareng teman-teman juga. Pagi hingga jelang magrib, rasanya menyenangkan bisa kumpul dengan teman-teman sma + jadi kakak yang baik temani adek nonton. Seharian tertawa bersama, meski disela-selanya ada air mata yang menetes karna teringat sesuatu.
Seminggu sebelum akhir bulan Juni, perasaanku tidak pernah tenang. Selalu gelisah, selalu teringat kakek yang sedang sakit parah. Tapi dengan do’a, aku berusaha menenangkan diri, mencoba mengubah pikiran negative yang terinspirasi dari mimpi buruk, dan  semua hal yang aku takutkan.
Malam senin itu telah menjadi moment di mana aku melihat wajah bapak yang berusaha tenang tetapi malah terlihat sebaliknya, melihat eghy yang sama sekali tidak nafsu makan untuk pertama kalinya, dan merasa bersalah dengan diri sendiri yang masih bisa tertawa, makan enak, melakukan aktifitas seperti biasanya sedangkan kakek terbaring lemah di sana.
Belakangan, setiap harinya aku selalu merasa bersalah, merasa sangat berdosa ketika mengingat kakek yang sedang sakit dan tidak bisa berbuat apa-apa, aku masih bisa makan, minum, masih bisa jalan, masih bisa melakukan hal-hal yang biasanya aku lakukan. Dan hal yang paling menyakitkan adalah aku tidak di sana, di tempat kakek berada, di tempat kakek menghembuskan nafas terakhirnya :(
Minggu malam 30 juni tepat pukul 08.00 , kakek berpulang. Dan malam itu juga aku meninggalkan kota Mks bersama bapak, adek dan tante. Menyisakan 1 final mata kuliah yang sudah jelas tidak sempat aku ikuti. Perjalanan pulang yang paling berat dilalui, sepanjang perjalanan hanya bisa menangis dalam diam. Sakitnya berlipat ganda dari semua sakit yang pernah ada.
Cobaan tidak hanya sampai di situ, setelah 2 jam perjalanan tiba-tiba ban mobil bapak meletus, sementara ban gantinya juga kempes, dan kita lagi di tengah jalan yang sangat sunyi, hanya ada beberapa rumah penduduk yang sudah terkunci karena mmg malam sudah larut, dan parahnya lagi no signal. Complicated. Satu-satunya cara adalah membangunkan warga sekitar yang sudah bapak lakukan tetapi sama sekali tidak membuahkan hasil. Terpaksa kita nginap di pinggir jalan, tidur didalam mobil. Menunggu hingga pagi menjelang.
Kedengarannya sangat dramatis sekali, tapi itulah yang terjadi. Di tengah-tengah kesunyian malam, di tengah tangis yang tak kunjung meredah, aku hanya bisa memohon kepada Yang Maha Kuasa, hadirkan signal sebentar saja Ya Allah, hanya untuk mengabari keluarga di bone agar tidak khawatir. Dan subhanallah ketika mengecek hp, sdh ada signal. Segera aku kirimkan sms ttg keberadaan kami dan setelah itu signal kembali menghilang.
Paginya, kami melanjutkan perjalanan setelah ban mobil bapak diperbaiki. Dan tepat pukul 09.00 kami tiba di bone. Biasanya, selalu senang ketika berada di kota kelahiran, tapi kali ini rasanya sangat berbeda, apalagi melihat ada bendera putih di halaman rumah nenek. Langkah paling berat terasa ketika memasuki rumah. Kali ini tangis benar-benar sudah tidak bisa disembunyikan, dan semua meledak ketika aku memeluk tubuh nenek dengan erat. Sampai aku jatuh dan tidak sadarkan diri.
Yang kuat nak, sabarki. Semua orang juga akan meninggal, kita semua juga sama. Daripada lato’ menderita dengan sakitnya, biarkan lato’ pergi dengan tenang. Sabarki nak, sabarki .“ kalimat yang sama dari orang yang berbeda-beda, mulai dari bapak, mama, bunda, om, tante dan semua yang ada di rumah duka.
Setelah sadar, aku sudah berada tepat di samping kakek. Aku memeluknya, mencium kening dan pipinya untuk pertama dan terakhir kalinya. Selamat beristirahat lato’, baik-baikki di sana. I love u so much. :* ({}) ku sayang sekaaaaaaaaaaaaaaaliiiiiiiiiikiiii.
Sampai sekarang, setelah 10 hari lato’ pergi, sangat ingin sekali melihatnya, sebentar saja, sedetikpun juga tidak apa, dalam mimpi saja, tapi tidak pernah. Really miss you my grandfha. I know grandfather was the calm in the heavens.
Kalian tahu?
Kakekku meninggal setelah 1 tahun menderita penyakit yang mematikan itu tapi hanya hari terakhir, beliau mengeluh karna sakitnya. Wajahnya terlihat sangat tenang. Dan orang-orang yang mengiringi kepergiannya sangat banyak, sangat ramai. Subhanallah. kata orang : kalau mau lihat baik tidaknya seseorang, lihat pada saat dia meninggal. berapa banyak orang yang datang mengiringi kepergiannya di tempat peristirahatan terakhirnya. :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar