“Ada yang
percaya bahwa di dalam hujan terdapat lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka
yang rindu sesuatu. Senandung rindu yang bisa meresonansi ingatan masa lalu.”
― Yoana Dianika, Hujan Punya Cerita tentang Kita.
― Yoana Dianika, Hujan Punya Cerita tentang Kita.
Musim hujan..
Biasanya,
aku mulai was-was bersama orang rumah. Karna takut kebanjiran. Biasanya
bingung, mau nginap di mana lagi untuk sekedar menghindari air yang masuk ke
rumah, biasanya lagi cuma bisa baring, duduk, diam di atas kasur karna hanya
itu satu-satunya tempat yang tidak digenangi air.
Iya, rumah
ini terlalu tua untuk rumah-rumah di sebelah kanan kirinya. Rumah ini
satu-satunya yang belum pernah direnovasi. Tapi juga rumah ini yang paling
banyak punya cerita. 2 tahun setengah selama
kuliah aku di sini. Meskipun tua, banyak nyamuk, dan kebanjiran tapi aku selalu
punya rindu untuk kembali ke sana.
Toddopuli X
Griya Puspita Sari.
Rumah ini
satu-satunya tempat yang menjadi saksi bisu antara kita/kami ( aku dan dia )
sebelum akhirnya terpisahkan jua. Bagaimana mungkin, aku bisa lupa. Oke cukup,
sekarang lagi hujan, jangan sampai galau maksimal.
Jadi rumah
ini, sebagaimanapun kondisinya sekarang. Aku masih selvi yang dulu. Rindu digigit
nyamuknya, rindu kakiku gatal karna air hujan, rindu nonton Tv sambil
senyum-senyum, rindu minum cappuccino setiap paginya, rindu menyapa abang
tukang bakso setiap sorenya, rindu dibalut kenangan bersamanya, rindu hingga
pagi menjelang.
Hujan semakin
deras. Semakin awet. Semakin tidak tahu kapan memori lalu hilang bersama rinai
hujan. Biarkan langit biru tetap menangis. Aku akan tetap di sini, meski
berselimut perih.
Griya
puspita sari, meski tubuhmu dibalut air. Percayalah, matahari akan kembali
bersinar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar