Minggu, 12 Januari 2014

Menulis fiksi


 
Menulis itu sebuah keterampilan. Tidak ada yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas tulisan kita, selain dengan menulis, menulis dan terus menulis.
Hal-hal yang harus kita lakukan dalam menulis, yaitu :
1.      Menentukan ide.
Untuk menuliskan sesuatu kita butuh sebuah ide “ apa yang ingin kita tulis? “ pilih salah satunya “ write what you know “ or “ write what you want to know “ .
Ada banyak cara untuk menemukan sebuah ide. Salah satunya adalah membaca.
Inspirasi itu tidak pernah habis, hanya terkadang kita tidak cukup peka untuk menyadari keberadaannya.
2.      Menentukan tokoh
Buatlah tokoh yang hidup di dalam cerita kamu.
Ada 3 jenis tokoh dalam cerita, diantaranya yaitu pratagonis, anatgonis dan pendukung. Buatlah karakter yang bermotif.
3.      Plot
Merupakan rangkaian adegan terpilih yang memiliki sebab akibat.
Buatlah benturan atau hal-hal yang tidak biasa dialami oleh tokoh dalam cerita.
Adapun tips untuk belajar membuat plot dengan membaca buku favorit atau buku apa saja, kemudian bongkar plotnya, tulis ulang adegan pertama, ke dua, ke tiga dan seterusnya. Dengan berlatih seperti itu, kita akan dengan mudah membuat plot.
4.      Dialog
Fungsinya memberikan informasi yang belum ada dalam narasi sebelumnya.
Tips : jangan mengulang informasi yang sudah ada. Contoh : “ ia sedang duduk termenung di dalam kamarnya, tiba-tiba ada suara ketukan dari pintu, ibunya hendak masuk ke kamarnya. “ dialog : “ tok..tok.. nak buka pintunya, ibu mau masuk.” Kalimat yang diserukan oleh ibunya adalah contoh dialog yang mengulang informasi, seharusnya dialognya tidak berulang lagi karna sebelumnya di atas sudah ada penjelasan bahwa ada suara ketukan, ibunya hendak masuk ke kamar.
5.      Narasi
Merupakan kisah sebuah cerita yang memiliki kaitan dengan sudut pandang cerita.
Di dalam cerita yang baik terdapat konflik-konflik yang dapat membuat emosi pembaca naik turun. Adapun macam-macam konflik yaitu :
a)      Konflik orang ke orang
b)      Konflik batin
c)      Konflik orang ke lingkungan
Sudut pandang dalam cerita yang biasa digunakan, diantaranya :
·         Sudut pandang orang pertama ( aku, saya, kami, kita )
·       Sudut pandang orang ke dua ( melibatkan seorang pembaca yang terasa menceritakan seperti kita )
·         Sudut pandang orang ke tiga ( dengan menggunakan nama )
Kelebihan menggunakan sudut pandang orang pertama yaitu kita bisa memasuki pikiran seseorang karna di dalam cerita kita bisa berperan sebagai seorang pembaca. Sedangkan kelemahannya kita tidak bisa begitu dalam memasuki tokoh orang lain.
Kelebihan sudut pandang ke tiga yaitu bisa menyelami setiap karakter tokoh, akan tetapi tetap harus menjaga porsi yang seimbang.
Adapun sudut pandang orang ke dua jarang digunakan karna lumayan susah, tidak seperti sudut pandang orang pertama ataupun ke tiga.
6.      Setting
Merupakan latar belakang cerita.
Gunakan setting yang sesuai dengan genre dan karakter dalam cerita yang mampu membuat pembaca membayangkan dan merasakan  tokoh cerita sedang berada di mana. Cerita yang mampu mempertajam imajinasi pembaca dengan setting yang dimiliki bisa dikatakan berhasil melukis setting yang baik dalam sebuah cerita.
Menulis bukanlah hal yang mudah. Menulis itu sangat susah apalagi jika kita tidak memiliki komitmen dan disiplin dalam melakukannya.
Berdasarkan hasil survey teman-teman yang senang menulis, berikut beberapa kendala yang biasa dialami dalam menggerakkan sebuah pena :
1.      Buntu
Buntu terbagi atas 2 macam : buntu karna bahan dan buntu karna kepala kosong.
Buntu karna bahan cerita tidak ada, maka rasakanlah dan cari inspirasimu sendiri. Atau ciptakan beberapa kata yang dapat membentuk suatu cerita. Biasanya kata-kata bisa membentuk satu cerita, atau bisa juga cerita yang membentuk kata-kata. Misalnya ada 3 kata seperti TV, lemari dan remote. Gunakan 3 kata ini untuk membentuk cerita kamu.
Jika buntu akibat kepala kosong, maka isilah kekosongan kepala kamu dengan  membaca, membaca dan terus membaca. Namun jika yang kamu alami adalah buntu sikologis, kemungkinan mental kamu belum siap untuk menulis, maka jangan menulis dulu, cari sesuatu yang dapat membuat kamu fresh, lalu kembali ke laptop.
2.      Susah memulai
Kadang kita lagi semangat-semangatnya mau menulis. Ketika berhadapan dengan layar laptop, tiba-tiba semua buyar, kita jadi bingung mulai darimana. Kata seorang teman, jika kamu bingung mulai darimana, maka mulailah dari apa yang kamu rasakan. Cerita itu akan terbentuk dengan sendirinya.
3.      Mood
Sebenarnya dalam menulis itu tidak ada yang dikatakan mood atau tidak mood. Yang ada hanya kemalasan berpikir. Tidak disiplin, tidak konsisten, tidak berpegang teguh pada komitmen menulis.
Maka buatlah mood kamu selalu ingin menulis. Kaji kembali apa-apa saja yang membuat kamu senang menulis, kenapa kamu menulis? Untuk apa kamu menulis? Dan lain-lain.
Kemudian pasang target (deadline), biasanya seseorang akan mampu menyelesaikan sesuatu ketika diambang deadline. 
4.      Diksi ( pemilihan kata )
Seorang penulis muda pernah berkata bahwa sahabat yang paling dekat dengan penulis adalah kamus.
Banyak membaca juga bisa meningkatkan kosa kata yang kita miliki. Maka membacalah, baca apa saja.
5.      Tidak punya waktu luang
Banyak yang mengeluh sulit menemukan waktu yang tepat atau waktu luang dalam menulis lantaran kesibukan yang dijalaninya. Menulis itu bisa kapan saja. Pilihlah waktu yang membuat kamu nyaman dan senang ketika menulis. Ada beberapa penulis yang senang menulis ketika bangun pagi, ada juga pada waktu istirahat setelah makan siang, atau menjelang senja. Menulis di waktu tengah malam juga biasanya memberi inspirasi yang lebih dalam dari waktu-waktu lain. Feelnya lebih dapat. Tetapi kembali ke penulisnya masing-masing, senang dan bisanya kapan.

Ada 1 quote yang berbunyi “ You don’t find time to write, you make time. “ – Nora Roberts.

Nah, sekian yang ‘sedikit‘ bisa saya bagi tentang menulis. Semoga bermanfaat. Selamat membaca, selamat menulis! :’)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar