Kamis, 06 Desember 2012

Ntah

Langkahku semakin menjauh. Aku tidak bisa melawan arah angin yang datang menerjang. Perasaan ini bukan kuasaku, aku hanya terbawa arus. Aku tak mampu berbalik arah..
Langkahku semakin menjauh. Menjauh dari dua hati yang selama ini membelenggu. Mungkinkah ini jawaban dari Tuhan?
Aku telah lewat jenuh, hanya saja belum cukup kuat untuk melepaskan.. Tuhan, apa ini saatnya?
Semakin mencoba untuk melupakan, bayang-bayangnya semakin jelas terlihat. Meminta untuk kembali, memberi maaf dan memberi kesempatan untuk bersama lagi. Aku tak kuasa menolak atau sekedar menggeleng tanda tidak terima. Aku begitu rapuh.
Hidup di antara dua hati adalah bahagia-bahagia menyakitkan. Apa jadinya jika salah satu diantara mereka menjadi bagian dari dirimu, bagaimana mungkin kamu menyakiti hati yang satunya?? atau mungkin ke duanya tidak menjadi bagian dirimu, bagaimana mungkin kamu melapangkan dada untuk menerima semuanya? Berat pasti .
Jatuh di antara dua hati adalah dilema berkepanjangan. Di mana keduanya menjanjikan bahagia apabila waktunya, apa bahagia butuh waktu untuk hadir dalam hidup kita? Bukankah bahagia akan tercipta dengan sendirinya? Lalu apa makna kata sampai tiba waktunya? Ataukah mungkin “ sampai tiba waktunya = nanti ya kalau aku sudah siap ” ..
Kenapa harus menunggu kamu siap lalu cinta itu ada? Bukankah cinta tercipta dengan sendirinya? Lalu untuk apa menunggu hingga tiba waktunya?
Ini bagian dari protes terbesarku untuk hati yang seenaknya saja menggantung. Datang dan pergi sesukanya. Menganggap semuanya baik-baik saja, eh salah, harusnya menganggap semuanya akan selalu baik-baik saja.
Apa hati yang menggantung tidak tahu bagaimana rasanya pahit berjuang sendirian? Apa hati yang menggantung lupa bahwa menunggu itu adalah hal yang sangat meletihkan? Apa hati yang menggantung itu kurang peka atau tidak peduli? Bahwa di ujung sana, ada hati yang rela berkorban hanya untuk menunggu sebuah kepastian.. Kepastian yang belum pasti happy ending..
Seperti itu kah cinta?
Bukankah cinta tidak akan setega itu membuat cintanya menunggu terlalu lama?
Bukankah cinta tidak akan sampai hati membuat pasangannya menjatuhkan air mata, hanya karena menahan rindu yang sangat hebat?
Atau mungkin ini bukan cinta, mungkin saja ini hanya sebuah obsesi terpendam untuk diwujudkan nanti, ntah kapan..
Haruskah cinta menunggu lebih lama?
Haruskah cinta mengeluarkan lebih banyak air mata?
Haruskah cinta selalu berkorban tanpa pamrih?
Dimana letak bahagia cinta yang sesungguhnya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar