Jumat, 17 Mei 2013

Dialog antara Murid dan Guru



Satu-satunya hal yang tidak boleh kita lupakan “ dialog “.

Murid  : Ciee yang mau ke RAMMA’
Guru    : Mohon do’anya :’)
Murid  : iyaaa
Guru    : Kenapa tidak ikut ?
Murid  : hehe tidak ada yang ajak. Ah memang tidak bisa hehe
Guru   : kenapa tidak menawarkan diri? Nah semua yang mau berangkat besok mereka menawarkan diri. Saya mau ajak tadi tapi dari gerakannya, terbaca seperti ada problem.
Murid  :  Mau menawarkan diri sama siapa? Hehe, bisa saja baca orang
Guru   : Sama yang fix berangkat. Saya tidak tahu apa masalahnya, tapi satu tim yang harmonis dalam tulisan kamu, tapi faktanya duduk semeja saja tidak bisa. Kesimpulannya, ada masalah dalam tim ini. Kata para bijak, masalah itu ada untuk dituntaskan. Problemnya, kapan? Mau sampai kapan masalah diendapkan? Suatu saat dia akan tumpah dari wadahnya. Dan kalau begitu, maka apa yang ada di sekeliling wadah itupun akan kena imbasnya.
Murid  : Saya tidak tahu siapa yang fix berangkat. Tapi di luar dari itu, memang tetap tidak bisa ikut. Sejauh yang pernah saya lewati, memang masalah kali ini yang saya simpan sendiri. Bahkan dengan teman terdekat sekalipun, saya tidak pernah tertarik untuk menceritakannya. Saya mengurung diri, saya yang menutup diri. Mungkin masalahnya ada sama saya. Saya tahu saya ego tapi saya tidak bisa.
Guru   : Saya tidak punya hak untuk memaksa. Kita manusia yang berhak memutuskan tindakan.  Masih ingat sms tentang kewajiban dan perasaan? Coba renungi ! Kalau masih ngambang, saya siap diajak diskusi lagi. Maaf
Murid  : Iya saya masih ingat. Saya bukan membela diri. Tapi kalau mereka cukup dewasa, mereka tidak akan tinggal diam. Iya, boleh.
Guru   : Persoalannya bukan pada siapa yang dewasa tapi siapa yang mau memulai. Seringkali orang yang dibilang dewasa justru kalah tangkas dibanding dengan anak-anak, perbandingan ini bukan supaya kita jadi anak-anak, tidak begitu. Tapi bagaimana supaya permasalahan yang hadir dalam hidup dapat dituntaskan dengan cara yang tepat dengan waktu yang relative sedikit.
Terus apa artinya dewasa?
Murid  : Dewasa itu mereka yang bijak, mereka yang bisa menghadapi dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.
Guru   : Orang yang bijak. Iya sama. Tapi kalau saya perluas terminologinya, manusia dewasa itu adalah manusia yang sempurna. Jadi dalam terminologi saya, salah satu orang dewasa itu adalah Rasul Muhammad. Bagaimana tindakan Rasul dalam berhubungan dengan kawan dan lawan. Semuanya tanpa celah. Kemudian setiap manusia yang meniti jalan menuju kesempurnaan ( termasuk saya, km, dll ) kemungkinan melakukan kesalahan, dan adalah hal yang baik untuk membentuk kebaikan, tinggal siapa yang tahu lalu kemudian memulai.
Murid   : iya guru :’)

Guru tidak datang untuk mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Guru selalu bertanya kepada muridnya apa itu dewasa? Apa itu kewajiban? Apa itu masa depan?
Guru, muridmu mau belajar banyak. Mohon bimbingannya. Tapi seperti judul lagunya kotak “ pelan-pelan saja “ ..hehe
Terimakasih guru :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar