Minggu, 06 Oktober 2013

Moody-an

Besok Senin ya? Iya.

Sebelum seninnya tiba, ntah kenapa moodku diserang habis-habisan. jadi berantakan begini. udah bete aja, saking betenya sampai mau nangis. Perasaan dilanda rindu bertubi-tubi, terutama rindu keluarga yang di Bone. Sepertinya malam ini aku terserang homesick.

" Mama, rinduka. ke Makassar dong. | Susah itu nak, kalau selaluki mau dijenguk | :( | Bagaimana caranya mau kuliah di Jogja kalau sedikit-sedikit rindu lagi, rindu lagi. "

***
Emang jadi cewek mood-moodan itu susah ngejalaninnya. Bentar ketawa, bentar nangis, bentar senang, sebentarnya lagi nda tau mau ngapain. Kalau udah kayak gini, jadi bingung sendiri gimana mengatasinya. Padahal harusnya aku udah berpengalaman, toh ini bukan yang pertama kalinya. Tapi ya gitu, moodyan.

Hmm. tapi sekarang ada Milo Dan Cow jadi teman yang paling mengerti di kala mood lagi berantakan. Sekali seduh moodnya langsung ON. :3 Terimakasih Milo Dancow. 

Selamat malam. Selamat menyambut senin menyenang(ram)kan. hihihii

Sabtu, 05 Oktober 2013

Mirror



Cermin merupakan suatu benda yang sangat halus dan mampu memantulkan cahaya. 

Ada tidak orang yang semasa hidupnya tidak pernah bercermin? Kita pasti butuh cermin, ntah itu hanya untuk memastikan apakah penampilan kita sudah terlihat menarik? Ataukah make up kita sudah merata? Atau hanya sekedar untuk membenarkan posisi jilbab atau rambut kita yang lagi berantakan. Setiap kita, pasti kadang-kadang butuh cermin. Apalagi perempuan, kayaknya tidak bisa pisah sama benda yang satu ini. Ke mana-mana, di mana-mana pasti bercermin. Bersyukur, aku bukan salah satunya, hihi.

Berbeda dengan pemaparan di atas, pada tulisan kali ini aku bukan mau membahas cermin bagian disitunya, tapi lebih ke “ Ngaca dong! “. Nah kan cermin itu buat berkaca bukan? Melihat bayangan kita sendiri.
Ngaca dong ini diperuntukkan untuk orang yang selalu senang mengkritik orang lain, suka menjudge, selalu merasa dirinya benar dan hobby kepedean. Iya ya iya, masih bagus kalau punya pede daripada tidak sama sekali, tapi kalau berlebihan juga kan jadi tidak enak. Rasanya kurang pas.
Aku suka heran sama orang yang menyuruh orang lain berbuat sesuatu yang mereka sendiri tidak melakukannya, contohnya gini “ mengingatkan gebetannya shalat, padahal dia sendiri yang tidak mendirikan shalat “ atau “orang yang teoritis tapi no aplikasi dalam hidup” . kadang aku malu sendiri kalo misalnya ada teman yang seolah-olah dia di jalan yang benar terus menyuruh orang lain berbuat yang sama, padahal dianya cuma sebatas dalam pikiran saja, tindakannya tidak ada sama sekali. Apa untungnya sih terlihat seperti orang baik padahal dalamnya munafik? Astagfirullah.

Aku pernah dengar kalimat yang bunyi seperti ini “ Ngaca dulu dong, baru ngomong! “ sepakat tuh ama yang itu. Karna jangan sampai kita itu justru malah bilangin diri kita sendiri. Hehe contohnya kecilnya ya aku sendiri, tadinya aku ragu menulis tentang hal ini, takut kemakan omongan sendiri. Rasanya pahit, cobain aja nelan ludah sendiri. Kira-kira rasanya kurang lebih seperti itu. jorok amat ya? Sorry sorry.

Nah, jadi seberapa penting cermin dalam kehidupan kita?
Jawabnya : sangat penting.

Setelah menulis ini, aku juga akan bercermin. Hehe biar tidak sebatas di mulut aja. Kan malu sama tulisan sendiri. Yuuhhuuuuu~


Elegannya RACUN

Menurut saya, sahabat adalah rumah ke dua setelah keluarga :3

                                                          katakan YES! yes yes yes ! :D
kami selalu bahagia ketika bersama #RACUN

Kata siapa RACUN bubar? Memangnya kita gank? We are Friendship only, guys. Kita selalu satu meski tak selalu bersama.

Sayangnya, pas foto yg kemarin ini kita kurang 1 orang. Rosita Ahmad Sirajuddin lagi berhalangan. Next time, Insya Allah lengkap, aamiin.
Sejauh apapun kaki melangkah, sahabat selalu tahu arah jalab pulang {}

Selasa, 01 Oktober 2013

Fitrah Perempuan




“ Ma, kalo misalnya nanti aku punya suami yang tidak suka makan ikan, jadi aku harus masak apa? masa tempe/tahu sama kerupuk setiap hari? “
“ nah, itu pintar-pintarnya kamu kerja di dapur. ”
Yah mama, bukannya memberi solusi malah memaksa pikiranku untuk melahirkan solusi sendiri. -____-
Ini bukan lebay, atau sejenisnya. Mungkin ada dari kalian yang membaca tulisan ini malah berpikir bahwa “ edd jauhnya pikirannya. “ ini bukan masalah jauhnya pikiran atau apa. menurutku, kita akan sampai pada titik itu, apalagi di umur yang sekarang ( menginjak kepala 2 ) aku pikir bukan waktunya lagi untuk bermain-main atau hanya sekedar pacaran kemudian putus, balikan, putus lagi dan balikan lagi sampai dunia berubah zaman. Suatu saat, kita akan menjadi seorang istri, menjadi ibu. Kita harus pintar-pintarnya masak yang enak buat suami, membuat sarapan untuk anak-anak dan lain-lain. Pokoknya gimana caranya bisa membuat suami betah di rumah dan menghabiskan waktu bersama kita. Kita akan sampai pada titik “ aduh, masak apalagi ya hari ini?” ( aku menulis ini sambil senyum-senyum loh, agak geli sih ) hehe.
Belakangan ini, aku malah jadi sering kepikiran gimana nanti kalau aku sudah besar ( besar dalam artian sudah dewasa dan punya masa depan ) sampai sekarang aku masih saja menyebut diriku ini anak kecil. Iya anak kecil yang belum tahu banyak tentang memasak, tentang pahit manisnya kehidupan, anak kecil yang masih selalu rindu tidur dipelukan mama, dipeluk bapak, dan tentunya anak kecil yang masih makan dari hasil keringat orang tua. Tapi anak kecil ini kemudian di hantui pikiran “ gimana nanti? “ jika aku terbangun dan tidurku tidak sendiri lagi, “ gimana nanti? “ jika aku rindu untuk pulang ke rumah tapi di sisi lain harus menunggunya pulang usai bekerja serta “ gimana nantinya yang lain.
Aku memang masih kecil, tetapi anak kecil ini sudah ada pikiran dan mau belajar banyak. Aku perempuan, dan akan menjadi seorang istri + ibu jika sudah tiba waktunya. Aku harus belajar dari sekarang dan mempersiapkan diri. Siapa yang tahu jodoh akan datang?
Dan aku akan merasa sempurna ketika menjadi seorang perempuan. Menjadi istri dan ibu yang baik untuk masa depanku. Iya, karna semua itu adalah fitrah bagi perempuan. Aamiin :)
       

really miss you grandfha :'(



Malam ini. aku terbangun dari tidurku. Terbangun dari mimpi yang mempertemukan aku dengan alm. Kakek. Dalam mimpiku, aku melihat kakek dan nenek, melihat om tante dan adek kecilku yang masih balita. Kami berada dalam lingkungan keluarga yang begitu hangat. Mereka semua sedang bercengkrama, sebagai cucu aku hanya turut meramaikan, tidak sampai ikut serta dalam perbincangan. Tidak lama kemudian kakek melihatku, beliau langsung memelukku dan berkata “ eh upi, adako nak? | iye lato’ lagi libur jadi ke bone ka | rinduka nak ( sambil memeluk tubuhku erat ) | saya juga rindu sekalika lato’ | klo kamu libur, tidak usah ke mana-mana. Dsini saja, di rumah nenek. Biarpun sekarang tidak ada meka, tetapko di sini, temani nenekmu nak.” Aku tidak tahu harus bilang apa. lidahku beku, hanya isak tangis yang berbicara.
Itu semua mimpi, mimpi yang baru saja aku alami, sekitar 30 menit yang lalu sebelum akhirnya aku menuangkannya di sini. Iya, hanya mimpi tapi maknanya dalam. Aku tahu kakek berusaha menyampaikan isi hatinya untukku, tentang rindunya, tentang pesannya agar aku menemani nenek. Aku tahu. Mimpi ini bukan sekedar mimpi belaka. Saat terbangun, sosoknya menjadi satu-satunya yang terbayang di benakku. Aku sangat merindukan beliau. Dan hanya bisa berdoa untuk ketenangannya di alam sana. Sembari menahan sakit, aku memutuskan untuk bangun dari tempat tidur, menyalakan laptop tanpa menghidupkan lampu kamar. Berharap ada cahaya dan aku bisa melihat kakek berdiri  di sana. Sekejap saja Tuhan, biarkan aku melihatnya tersenyum damai, nyata sekali lagi. Aku melemparkan pandanganku di setiap sudut kamar, kakek adakah kau di sana? apa kau di sini? Apa kau melihatku? Aku tengah menulis untuk kakek, karna Cuma ini yang bisa mengobati rinduku selain berdo’a untukmu. Kakek jangan marah, aku menangis bukan karna sedih, aku rindu. Aku tahu kakek tidak pernah suka ketika aku menangis atau tertawa yang berlebihan. Maafkan aku. Karna sepertinya malam ini akan ku lewati dengan derai air mata. Hanya untukmu, my grandfhater. I miss you so much. Peluk cium untuk kakek di surga, Al- Fatiha aamiin :*{}

Kamis, 26 September 2013

Berbagi bersama sahabat :)




" Di umur yang segini kita tuh semakin dihadapkan dengan kenyataan. "

Sekali lagi, aku merasa tertampar dengan ucapan sahabatku itu. Iya memang benar, kita semakin tua, kita akan dihadapkan dengan kenyataan, terlepas itu baik atau buruk. Tapi setidaknya aku lebih memilih melihat dari sisi negatifnya. Soalnya kalau yang baiknya kan sisa kita nikmati hehe. Tetapi bagaimana jika kenyataan jauh dari yang kita harapkan? Apa yang kita inginkan tidak selamanya kita dapatkan.
Cerita-cerita dari seorang sahabat semakin membuatku sadar bahwa tidak selamanya hidup itu soal kebahagiaan, makan enak, jalan-jalan, shopping, nyalon dan lain sebagainya. Akan ada waktu di mana kita sampai di masa yang gelap, suram dan ehm seram deh kayaknya. Pernah kepikiran tidak? Di saat kita punya segalanya, kita selalu mendapatkan apa yang kita mau, dan tiba-tiba semua lenyap. Pernah merasakan?
Pernah atau tidaknya, kita akan sampai di masa itu kok. Karna tidak selamanya kita berada di puncak dan melihat segala keindahan dari atas sana.
Belajar itu tidak mesti dengan membaca ataupun menulis, dengan mendengarkan cerita sahabat kita juga bisa belajar banyak. Contohnya saja aku, sore tadi aku mendapatkan ribuan pelajaran dari cerita sahabat perempuanku. Aku seperti bercermin dan dia memantulkan cahayanya, aku bisa merasakannya.
“ maaf ya. Kamu pernah kepikiran tidak malu berteman denganku? “ tiba-tiba saja kalimat itu keluar dari mulutku.
“ karna?” tanyanya balik.
“ kamu dengan pemikiran yang sangat matang, aku dengan pemikiranku yang sederhana saja. Kamu dengan sikapmu yang sangat dewasa, dan aku yang masih terlihat kekanak-kanakan. Kamu yang dengan sebegininya udah mikir buat membiayai kuliah adikmu, sedangkan aku? Masih santai begini dan makan uang orang tua. Rasanya malu. “
“ Astagfirullah, aku tidak pernah ada pemikiran seperti itu. tolong jangan berpikiran seperti itu. Kamu tuh bukan tidak berpikiran sama sepertiku, cuman belum waktunya saja. Kamu akan sampai di titik ini kok. Lagian menurutku, kamu sudah berkorban demi keluargamu, untuk adikmu. Kamu ingat tidak pernah cerita apa? Menurutku kamu juga sudah mengalami masa gelap dan kamu berhasil melewatinya. Cuma mungkin, ceritanya berbeda. Tapi intinya sama. Aku paling excited waktu kamu cerita kamu mau punya cafĂ©. wow banget” jawabnya berapi-api.

Hmm, terimakasih perempuan. Kamu selalu bisa membuatku merasa hidup. Selalu bisa membuatku bercermin dengan apa yang kamu alami, kamu selalu berbagi dan aku menikmatinya.
Banyak pelajaran yang bisa aku petik dari ceritamu. Jadi aku akan semakin berpikir ke depan mau jadi apa kita nantinya. Setidaknya di mulai dari sekarang, karna waktu tidak akan pernah menunggu. 

Saat itu, senja terlihat lebih sempurna. Bahagia itu memang sederhana kawan :)