Lagi apa? jam segini belum tidur? | lagi nulis ma | menulis tidak akan membuat
kamu punya banyak uang | saya menulis bukan kejar materi ma, saya melakukannya
karna saya mencintainya.
Bukan
matre, aku rasa mama hanya mengujiku dengan pernyataan seperti itu. Dari awal
mama memang tidak terlalu suka aku menghabiskan banyak waktu di depan laptop
dengan bermain kata demi kata atau menghabiskan uang jajanku hanya untuk
menambah koleksi bacaanku. Tapi tidak suka bukan berarti tidak mendukung ya.
Setiap kali pulang dari toko buku, aku selalu menyembunyikan belanjaanku ke
dalam baju hingga suatu malam, abis dari gramedia mama tanya “ beli buku
apalagi malam ini? “ | tidak ada, tadi cuma liat-liat ( tiba-tiba kantongannya
hampir jatuh dan ketahuan deh ) | itu apa? | hehe cuma bisa cengengesan :D
Memang
ya, segala sesuatu yang disembunyikan pada akhirnya akan terkuak juga. Sampai pada
suatu hari, aku memutuskan untuk jujur dan bicara pelan-pelan sama mama. Selama
ini aku tidak pernah meminta sesuatu yang berlebih, aku cuma minta mama
mengerti, biarkan aku dengan koleksi bacaanku, aku merasa hidup seperti ini. Aku
menulis bukan untuk menjadikannya sebuah pekerjaan yang bisa menghasilkan uang
dan dikenal banyak orang. Aku mencintainya ma. Sampai akhirnya mamaku tdak
berkata apa-apa iya dan ku sebut saja diam beliau berarti mengiyakan, “lakukan
apa yang menurutmu baik nak” . Dan sejak saat itu, mama tidak pernah lagi memberi
teguran kecil mengenai semua itu. ibu memang orang paling pengertian sedunia.
Pastikan ibumu juga sama. :’)
Menulis
dan membaca adalah sebagian dari jiwaku. Kenapa tidak sekalian ku katakan sepenuhnya?
Karna aku masih merasa sangat kurang dan sangat perlu banyak waktu untuk
benar-benar hidup di dalamnya, sepenuhnya.
Aku
ingin menjadi penulis, tapi aku sadar masih sekedar ingin. Buktinya aku belum
memiliki komitmen dan konsisten terhadapnya. Iya, kadang menulisnya pas lagi
mau saja. menurutku, itu sangat payah.
Support
dari teman-teman untuk keep writing dan menjadikannya sebuah karya, serta jangan
cuma jadi konsumsi pribadi selalu ku nikmati lewat indra pendengaranku. Bukan
masuk telinga kiri keluar telinga kanan atau sebaliknya, tetapi rasanya belum
ada saja yang mampu menggugah untuk benar-benar menggerakkan jariku membuatnya
nyata. Atau mungkin karna belum siap? Mau tunggu sampai kapan? Hingga akhirnya
percakapan via bbm terbaca seperti ini “ menulislah dengan hati. Jangan mau
jadi buruh seni, tapi jadilah seniman. Buruh seni itu selalu mengejar rating
klo nulis. Seniman itu selalu dari hati. “
Terimakasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar