Rabu, 23 Januari 2013

Beginilah kita..


Manusia akan selalu hidup dalam ketidakpastian. Sesuatu yang ada dalam genggaman pun bisa saja terlepas
Pagi ini aku bangun dengan perasaan yang sedikit berbeda.. Seperti ada goresan perih yang masih tersisa dari tadi malam.. Apa yang berbeda pagi ini? Udara pagi masih segar, langit-langit kamar juga tidak berubah, masih terlihat indah, tetapi perasaanku sepertinya tidak begitu, malam menyisakan perih di sini, di hati ini..
Aku memandangi hujan dari balik jendela kamar, seakan melengkapi kisah cintaku yang telah resmi menjadi kenangan, hujan semakin deras. Air mataku kembali terjatuh, tetes demi setetes.
Kami dua insan yang bertemu dan saling jatuh cinta. Kami memutuskan untuk menjalani hubungan dengan ikatan asmara seperti para remaja pada umumnya. Semenjak itu, hari-hari terasa lebih berwarna, begitu cerah begitu bahagia.. tetapi semakin ke depan cobaan demi cobaan menerpa hubungan kami. Mulai dari restu keluarganya yang tidak berhasil aku kantongi. Semua terasa lebih berat sekarang.
Setiap hari yang kita lalui bersama adalah hari bahagia sekaligus kecemasan akan ketahuan oleh orang-orang terdekat kami. Iya, saat ini kami backstreet. Jalan diam-diam.
Kami duduk berdua di teras rumah, menikmati senja. “ Aku janji tidak akan pernah meninggalkanmu, apapun yang akan terjadi nanti..” bisiknya pelan. Mendekapku hangat. Aku merasakan aroma tubuhnya yang telah ku kenal sejak setahun lalu. Wangi dan membuatku candu.
Aku hanya terdiam, menatapnya lekat. “ Semoga bukan hanya sekedar janji, aku takut kehilanganmu “ aku melepaskan pelukannya.. Air mataku terjatuh. “Jangan menangis, aku sangat sayang padamu, aku akan tetap bersama kamu..” katanya mencoba menenangkanku. Dan kembali mendekapku ditambah dengan kecupan manis di keningku..
Hari demi hari kembali kami lalui bersama. Tidak lagi peduli dengan ancaman keluarganya yang menyarankan kami agar segera berpisah. Kami saling mencintai, tidak akan semudah itu membuat kami goyah.
…………………..
Pengumuman SNMPTN sudah tersebar di media internet. Aku dan dia termasuk segelintir orang yang kurang beruntung lolos ke Perguruan Tinggi Negri yang kami inginkan. Tetapi dia tetap menyuntikkan semangat ke dalam tubuhku, padahal aku tahu dia juga tengah putus asa saat ini.
Malam harinya aku menerima telpon dari seseorang yang sangat aku cintai itu. Suaranya terdengar sangat berat di ujung sana. “ Aku sudah memikirkan hal ini seminggu sebelum pengumuman SNMPTN keluar. Aku masih harus belajar banyak, aku mau fokus belajar dulu. Mengenai hubungan kita, terserah kamu apa mau menunggu atau memutuskan sampai di sini saja”. Aku terdiam lama. Hingga akhirnya suaraku terdengar juga walau hanya berbisik lirih “ berapa lama? “ .. “ Kurang lebih setahun “. Aku berusaha menahan tangis. “ Harus dengan cara seperti itukah?” “ Iya “ jawabnya tegas. Tangisku pecah. “ Maafkan aku, maaf “ suaranya terdengar semakin berat. Aku semakin terisak, nafasku sesak. Semua terasa gelap.
Paginya aku terbangun dengan sebuah keputusan yang menurutku adalah hal terbaik untukku, untuknya dan untuk hubungan kami. “ Aku akan tetap menunggumu “ . “ Kamu yakin?” Tanya dia setengah tidak percaya. “ iya, aku yakin “ jawabku tegas. “ Terima kasih honey, aku sangat mencintaimu “ terdengar suara haru bahagia di ujung telponku.
……..….
Kami telah menyepakati untuk tidak saling mengubungi satu sama lain selama kurang lebih satu tahun. Hanya karna 1 alasan. Fokus belajar. Itu yang dia katakan padaku malam itu. Aku menerima, aku sangat mencintainya. Aku ingin yang terbaik untuknya. Meskipun ini berat tapi cinta ini menguatkanku. Aku yakin bisa melewati ini. Aku kuat.
Hari demi hari berjalan terasa lebih lama. Menyiksa. Malam-malam terasa mencekam. Rindu semakin menghebat. Yang aku tahu setiap malam, setiap harinya aku menangis. Menangis karena rindu. “ Sayang, kamu di mana? Lagi ngapain? “ aku hanya mampu bertanya pada diriku sendiri. Menyesakkan .
Waktu akan terus berjalan. Siap atau tidaknya kita menjalani, waktu tidak akan pernah  menunggu, semua akan tetap berjalan seperti yang seharusnya. Aku mencoba mengikhlaskan, aku belajar melepaskan. Ini sudah menjadi kesepakatan kami dan aku harus menepatinya.
Seperti yang biasanya kita dengar “ Tuhan tidak akan pernah memberi cobaan kepada hambaNya di luar batas kemampuannya “. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam dengan kekuatan yang diberikanNya untukku, akhirnya aku bisa melalui hari demi hari tanpa hadirnya, tanpa kabar darinya. Aku mulai terbiasa. Aku tidak lagi menangis.
3 bulan berlalu dengan kesendirian. Aku memang sendiri tetapi hatiku tidak sepi. Aku punya cinta dan aku menunggunya yang kini tengah berjuang untuk  masa depannya. Aku berharap dan terus berdo’a yang terbaik untuknya. Semoga tahun ini dia lolos masuk PTN yang dia inginkan. Aamiin :’)
……..
Setahun kemudian..
“ Assalamu’alaikum. Hai, besok sibuk yh? Ada waktu tidak? Aku mau bicara sesuatu.” Sebuah pesan singkat selesai aku baca. Perasaanku tiba-tiba seperti gado-gado. Manis asam asli rame rasanya. Aku mengiyakan ajakannya untuk bertemu membicarakan sesuatu yang sepertinya sangat penting.. Tak lama kemudian aku teringat “ouh astaga, ujian SNMPTN sudah selesai dan pengumuman sudah keluar” . Ya Allah semoga dia lulus, aamiin :’)
Akhirnya setelah sekian lama tidak bertemu, aku kembali bisa melihat wajah yang teduh itu, senyuman yang manis dan merasakan dekapan hangat darinya. Rindu terasa buyar, semua terbayarkan dengan pertemuan hari ini.
“ Apa kabar? “ tanyanya memecahkan keheningan malam itu. “ baik, gimana ujiannya?” Dia tidak langsung menjawab pertanyaanku. Jantungku berdebar lebih kencang saat itu. Dia menyuguhkan senyuman penuh arti terlebih dahulu, lalu disusul kalimat tanya yang terdengar seperti ini “ mau jawaban yang mana dulu? Baik atau buruk?” Keningku mengkerut “maksud kamu?” Seolah mengabaikan pertanyaan yang dibuatnya sendiri dan jawaban tanya balik dariku, suaranya kembali terdengar “ Alhamdulillah ujianku lancar dan aku lulus pada pilihan ke dua, tapii….. “ sebelum dia melanjutkan, aku langsung memotong dengan pertanyaan “ tapi apa? Tolong jangan katakan sesuatu yang buruk yang dapat membuatku pingsan saat ini juga !” dia tersenyum “ kamu tidak berubah! Terlalu cepat negative thinking :P aku di sini cuma mau bercerita tentang kabar baik, jangan khawatir!” celotehnya. Setelah mengambil nafas, dia melanjutkan ceritanya “ aku lulus pilihan ke dua di salah satu universitas negri di Jawa” . Mataku menatapnya lekat, mata kami bertemu, saling berpandangan. Hening. Tak ada kata yang keluar dari mulutku. Aku sudah bisa menebak apa yang akan terjadi setelah ini. Aku tahu dia akan pergi (lagi).. Aku masih harus berjuang rupanya ( jika masih ingin mempertahankan). Setahun ternyata belum cukup untuk menguji cinta kami, sekarang harus berpisah lagi, bahkan ini terkesan lebih berat. Jarak. Iya ada jarak, kali ini kami akan dipisahkan oleh pulau. Apa aku masih mampu untuk bertahan? Aku hanya bisa bertanya pada diriku sendiri. Kali ini tidak akan ada pilihan untukku, setuju atau tidak dia akan tetap melanjutkan pendidikan di sana. Aku tidak mungkin menghalanginya, aku sangat mencintainya, aku ingin yang terbaik untuknya, meskipun itu harus mengorbankan perasaanku sendiri. Aku hanya tersenyum sampai dia selesai bercerita dan seolah membaca pikiranku dia berkata “aku akan tetap menepati janjiku, kita akan tetap bersama, kita hanya akan dipisahkan oleh jarak, hati kita tetap dekat. Percayalah!” aku hanya tersenyum, aku sudah tidak mampu lagi berkata apa-apa. Air mataku cukup menjelaskan semuanya. Ini akan terasa lebih berat dari yang sebelumnya.
Jelang 3 hari sebelum keberangkatannya ke pulau Jawa, aku memintanya untuk menemuiku. Aku ingin membicarakan sesuatu sebelum dia pergi. Soal aku dan dia, soal kita.
“ aku ingin kita cukup sampai di sini, aku sudah tidak mampu menjalani semuanya, jarak memang bukanlah penghalang tapi bukan disitu masalahnya, aku merasa ada yang sudah tidak pas lagi, terimakasih sudah menepati janjimu. Aku sangat mencintaimu, aku ingin yang terbaik untukmu. Pergilah, belajar baik-baik! Raih cita-citamu, aku akan selalu berdo’a yang terbaik untukmu.”
Dia terdiam lama, menungguku kembali berbicara tetapi rasanya hanya itu yang ingin aku katakan. Semuanya jelas, aku yakin dia paham itu.
“ Baiklah kalau memang itu yang menjadi keputusanmu, aku terima. Aku mengerti perasaanmu, maafkan aku selama ini. Terimakasih untuk semuanya. Aku akan kembali untukmu. Aku sangat mencintaimu..”
Dan untuk pertama kalinya kami berpelukan bukan sebagai sepasang kekasih lagi.. tetapi pelukannya masih hangat, aroma tubuhnya tidak pernah berubah. “Aku pasti akan sangat merindukanmu.” Bisiknya lirih. “aku juga” ..
………..
Cinta adalah pengorbanan. Cinta tidak harus memiliki. Kita bisa saling mencintai tanpa harus memiliki. Kadang-kadang pegunungan terlihat lebih indah jika kita memandanginya dari kejauhan.
Apa yang kita punya, kadang-kadang harus kita lepaskan demi kebaikan orang yang kita cintai. Jangan takut akan kehilangan! Cinta sejati akan kembali jika memang kita adalah  pemiliknya. Cinta sejati akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk pulang..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar