“
Manusia akan selalu hidup dalam
ketidakpastian. Sesuatu yang ada dalam genggaman pun bisa saja terlepas “
Pagi
ini aku bangun dengan perasaan yang sedikit berbeda.. Seperti ada goresan perih
yang masih tersisa dari tadi malam.. Apa yang berbeda pagi ini? Udara pagi
masih segar, langit-langit kamar juga tidak berubah, masih terlihat indah,
tetapi perasaanku sepertinya tidak begitu, malam menyisakan perih di sini, di
hati ini..
Aku
memandangi hujan dari balik jendela kamar, seakan melengkapi kisah cintaku yang
telah resmi menjadi kenangan, hujan semakin deras. Air mataku kembali terjatuh,
tetes demi setetes.
Kami
dua insan yang bertemu dan saling jatuh cinta. Kami memutuskan untuk menjalani
hubungan dengan ikatan asmara seperti para remaja pada umumnya. Semenjak itu,
hari-hari terasa lebih berwarna, begitu cerah begitu bahagia.. tetapi semakin
ke depan cobaan demi cobaan menerpa hubungan kami. Mulai dari restu keluarganya
yang tidak berhasil aku kantongi. Semua terasa lebih berat sekarang.
Setiap
hari yang kita lalui bersama adalah hari bahagia sekaligus kecemasan akan
ketahuan oleh orang-orang terdekat kami. Iya, saat ini kami backstreet. Jalan
diam-diam.
Kami
duduk berdua di teras rumah, menikmati senja. “ Aku janji tidak akan pernah
meninggalkanmu, apapun yang akan terjadi nanti..” bisiknya pelan. Mendekapku
hangat. Aku merasakan aroma tubuhnya yang telah ku kenal sejak setahun lalu.
Wangi dan membuatku candu.
Aku
hanya terdiam, menatapnya lekat. “ Semoga bukan hanya sekedar janji, aku takut
kehilanganmu “ aku melepaskan pelukannya.. Air mataku terjatuh. “Jangan
menangis, aku sangat sayang padamu, aku akan tetap bersama kamu..” katanya
mencoba menenangkanku. Dan kembali mendekapku ditambah dengan kecupan manis di
keningku..
Hari
demi hari kembali kami lalui bersama. Tidak lagi peduli dengan ancaman keluarganya
yang menyarankan kami agar segera berpisah. Kami saling mencintai, tidak akan
semudah itu membuat kami goyah.
…………………..
Pengumuman
SNMPTN sudah tersebar di media internet. Aku dan dia termasuk segelintir orang
yang kurang beruntung lolos ke Perguruan Tinggi Negri yang kami inginkan.
Tetapi dia tetap menyuntikkan semangat ke dalam tubuhku, padahal aku tahu dia
juga tengah putus asa saat ini.
Malam
harinya aku menerima telpon dari seseorang yang sangat aku cintai itu. Suaranya
terdengar sangat berat di ujung sana. “ Aku sudah memikirkan hal ini seminggu
sebelum pengumuman SNMPTN keluar. Aku masih harus belajar banyak, aku mau fokus
belajar dulu. Mengenai hubungan kita, terserah kamu apa mau menunggu atau
memutuskan sampai di sini saja”. Aku terdiam lama. Hingga akhirnya suaraku
terdengar juga walau hanya berbisik lirih “ berapa lama? “ .. “ Kurang lebih
setahun “. Aku berusaha menahan tangis. “ Harus dengan cara seperti itukah?” “ Iya
“ jawabnya tegas. Tangisku pecah. “ Maafkan aku, maaf “ suaranya terdengar
semakin berat. Aku semakin terisak, nafasku sesak. Semua terasa gelap.
Paginya
aku terbangun dengan sebuah keputusan yang menurutku adalah hal terbaik
untukku, untuknya dan untuk hubungan kami. “ Aku akan tetap menunggumu “ . “
Kamu yakin?” Tanya dia setengah tidak percaya. “ iya, aku yakin “ jawabku
tegas. “ Terima kasih honey, aku sangat mencintaimu “ terdengar suara haru
bahagia di ujung telponku.
……..….
Kami
telah menyepakati untuk tidak saling mengubungi satu sama lain selama kurang
lebih satu tahun. Hanya karna 1 alasan. Fokus belajar. Itu yang dia katakan
padaku malam itu. Aku menerima, aku sangat mencintainya. Aku ingin yang terbaik
untuknya. Meskipun ini berat tapi cinta ini menguatkanku. Aku yakin bisa
melewati ini. Aku kuat.
Hari
demi hari berjalan terasa lebih lama. Menyiksa. Malam-malam terasa mencekam.
Rindu semakin menghebat. Yang aku tahu setiap malam, setiap harinya aku
menangis. Menangis karena rindu. “ Sayang, kamu di mana? Lagi ngapain? “ aku
hanya mampu bertanya pada diriku sendiri. Menyesakkan .
Waktu
akan terus berjalan. Siap atau tidaknya kita menjalani, waktu tidak akan
pernah menunggu, semua akan tetap
berjalan seperti yang seharusnya. Aku mencoba mengikhlaskan, aku belajar
melepaskan. Ini sudah menjadi kesepakatan kami dan aku harus menepatinya.
Seperti
yang biasanya kita dengar “ Tuhan tidak akan pernah memberi cobaan kepada
hambaNya di luar batas kemampuannya “. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam
dengan kekuatan yang diberikanNya untukku, akhirnya aku bisa melalui hari demi
hari tanpa hadirnya, tanpa kabar darinya. Aku mulai terbiasa. Aku tidak lagi
menangis.
3
bulan berlalu dengan kesendirian. Aku memang sendiri tetapi hatiku tidak sepi.
Aku punya cinta dan aku menunggunya yang kini tengah berjuang untuk masa depannya. Aku berharap dan terus berdo’a
yang terbaik untuknya. Semoga tahun ini dia lolos masuk PTN yang dia inginkan.
Aamiin :’)
……..
Setahun
kemudian..
“
Assalamu’alaikum. Hai, besok sibuk yh? Ada waktu tidak? Aku mau bicara
sesuatu.” Sebuah pesan singkat selesai aku baca. Perasaanku tiba-tiba seperti
gado-gado. Manis asam asli rame rasanya. Aku mengiyakan ajakannya untuk bertemu
membicarakan sesuatu yang sepertinya sangat penting.. Tak lama kemudian aku
teringat “ouh astaga, ujian SNMPTN sudah selesai dan pengumuman sudah keluar” .
Ya Allah semoga dia lulus, aamiin :’)
Akhirnya
setelah sekian lama tidak bertemu, aku kembali bisa melihat wajah yang teduh
itu, senyuman yang manis dan merasakan dekapan hangat darinya. Rindu terasa
buyar, semua terbayarkan dengan pertemuan hari ini.
“
Apa kabar? “ tanyanya memecahkan keheningan malam itu. “ baik, gimana
ujiannya?” Dia tidak langsung menjawab pertanyaanku. Jantungku berdebar lebih
kencang saat itu. Dia menyuguhkan senyuman penuh arti terlebih dahulu, lalu
disusul kalimat tanya yang terdengar seperti ini “ mau jawaban yang mana dulu?
Baik atau buruk?” Keningku mengkerut “maksud kamu?” Seolah mengabaikan
pertanyaan yang dibuatnya sendiri dan jawaban tanya balik dariku, suaranya kembali
terdengar “ Alhamdulillah ujianku lancar dan aku lulus pada pilihan ke dua,
tapii….. “ sebelum dia melanjutkan, aku langsung memotong dengan pertanyaan “
tapi apa? Tolong jangan katakan sesuatu yang buruk yang dapat membuatku pingsan
saat ini juga !” dia tersenyum “ kamu tidak berubah! Terlalu cepat negative
thinking :P aku di sini cuma mau bercerita tentang kabar baik, jangan
khawatir!” celotehnya. Setelah mengambil nafas, dia melanjutkan ceritanya “ aku
lulus pilihan ke dua di salah satu universitas negri di Jawa” . Mataku
menatapnya lekat, mata kami bertemu, saling berpandangan. Hening. Tak ada kata
yang keluar dari mulutku. Aku sudah bisa menebak apa yang akan terjadi setelah
ini. Aku tahu dia akan pergi (lagi).. Aku masih harus berjuang rupanya ( jika
masih ingin mempertahankan). Setahun ternyata belum cukup untuk menguji cinta
kami, sekarang harus berpisah lagi, bahkan ini terkesan lebih berat. Jarak. Iya
ada jarak, kali ini kami akan dipisahkan oleh pulau. Apa aku masih mampu untuk
bertahan? Aku hanya bisa bertanya pada diriku sendiri. Kali ini tidak akan ada
pilihan untukku, setuju atau tidak dia akan tetap melanjutkan pendidikan di
sana. Aku tidak mungkin menghalanginya, aku sangat mencintainya, aku ingin yang
terbaik untuknya, meskipun itu harus mengorbankan perasaanku sendiri. Aku hanya
tersenyum sampai dia selesai bercerita dan seolah membaca pikiranku dia berkata
“aku akan tetap menepati janjiku, kita akan tetap bersama, kita hanya akan dipisahkan
oleh jarak, hati kita tetap dekat. Percayalah!” aku hanya tersenyum, aku sudah
tidak mampu lagi berkata apa-apa. Air mataku cukup menjelaskan semuanya. Ini
akan terasa lebih berat dari yang sebelumnya.
Jelang
3 hari sebelum keberangkatannya ke pulau Jawa, aku memintanya untuk menemuiku.
Aku ingin membicarakan sesuatu sebelum dia pergi. Soal aku dan dia, soal kita.
“
aku ingin kita cukup sampai di sini, aku sudah tidak mampu menjalani semuanya,
jarak memang bukanlah penghalang tapi bukan disitu masalahnya, aku merasa ada
yang sudah tidak pas lagi, terimakasih sudah menepati janjimu. Aku sangat
mencintaimu, aku ingin yang terbaik untukmu. Pergilah, belajar baik-baik! Raih
cita-citamu, aku akan selalu berdo’a yang terbaik untukmu.”
Dia
terdiam lama, menungguku kembali berbicara tetapi rasanya hanya itu yang ingin
aku katakan. Semuanya jelas, aku yakin dia paham itu.
“
Baiklah kalau memang itu yang menjadi keputusanmu, aku terima. Aku mengerti
perasaanmu, maafkan aku selama ini. Terimakasih untuk semuanya. Aku akan
kembali untukmu. Aku sangat mencintaimu..”
Dan
untuk pertama kalinya kami berpelukan bukan sebagai sepasang kekasih lagi..
tetapi pelukannya masih hangat, aroma tubuhnya tidak pernah berubah. “Aku pasti
akan sangat merindukanmu.” Bisiknya lirih. “aku juga” ..
………..
Cinta
adalah pengorbanan. Cinta tidak harus memiliki. Kita bisa saling mencintai
tanpa harus memiliki. Kadang-kadang pegunungan terlihat lebih indah jika kita
memandanginya dari kejauhan.
Apa
yang kita punya, kadang-kadang harus kita lepaskan demi kebaikan orang yang
kita cintai. Jangan takut akan kehilangan! Cinta sejati akan kembali jika
memang kita adalah pemiliknya. Cinta
sejati akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk pulang..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar