Hari
ini ntah bagaimana melukiskannya.
Terimakasih
Ya Allah.
Terimakasih
Hilman Erwin, Muh. Istiqlal Yunus dan Ninis Arevni untuk liburan dadakan ini.
Malino.
Kota dingin.
Sebuah
kota yang menceritakan banyak cerita. Cerita yang dipelopori 2 anak ababil dan
2 anak manusia yang merasa diababil-ababilkan oleh 2 anak ababil haha..
Malino.
Kota
yang menyimpan senyum, tawa, dan bahagia.
Malam
yang dingin. Pagi yang indah.. hujan romantic. Duduk manis.
“
bangun, ayo makan “ : hilman.
“
upi, bangun. Ayo makan. “ : ninis
“
makaaan , ayo makan “ : ila’
Me
: sambil kucek-kucek mata. Makan yeheeiii..
Sambil
menunggu makanannya datang, kami berempat bercerita bagaimana kami menghabiskan
malam 19 januari. Kami bermain kartu hingga dini hari.
Sik
asik makanannya datang. Dan indomie (lagi) tapi kali ini bukan nasi putih lagi
yang jadi pasangannya. Sekarang indomie jalan sama nasi kuning. Oalah aku tidak
mengerti bagaimana cara makannya. Indomie + nasi kuning. Nyambung di mana? Tapi
sudahlah, hanya ada itu di sini. Makan sajalah.. #SelamatMakan ..
Tik
tik tik. Hujan turun.
Hujan
kali ini berbeda. Hujan kali ini lebih romantic.
Menunggu
hujan reda di sebuah warung sambil menerawang jauh..
Di
sini di kota ini.
Berawal
sebuah cerita. Cerita tentang kami.
***
Langit
terus menangis.
Hmm,
perahu kertas. Perahu kertasku ingin berlabuh.
“
Petualangan SelvyHilmanERwinIlalNinisArevni “
Nus,
perahu kertasku berlabuh di jalanan. Hehehe
Aku
bahagia sekali, meskipun perahunya hanyut bukan berlabuh. Aku tetap tertawa.
Bermain
hujan, melompat-lompat di jalanan. Menikmati semua..
Bebas
.. lepasss..
“
hey, awas. Hati-hati. Hey, sudah mainnya
. hujaaan “
Suara
itu, suara itu menghentikan jejak-jejak langkahku di bawah langit yang menangis.
Aku seperti mendengar suara seorang bapak yang menegur putrinya bermain hujan
di jalanan. Hmm aku masuk ke villa.
Di
dalam villa, ke tiga anak manusia bersiap-siap pulang. Balik ke Makassar. Aku ikut
membereskan semua barang-barang yang ikut kami liburan.
Sebelum
balik, kami tentunya akan mampir dulu di beberapa tempat tetapi bukan kebun teh.
Tempat yang sangat ingin aku kunjungi di kota ini.
“
kita tidak usah mampir di kebun teh yh? “
“
knp? “ L
“
barangkali kita sudah tdk punya uang naak “
“
iya, kita ke tempat yang lain saja yg tidak memungut biaya, yh? Kebun tehnya
lain waktu saja”
Me
: L
iya pade. Tapi kita ke pohon pinus yh.
·
Pohon pinus ..
“
Hilman, kita seperti benar-benar di film petualangan SHERINA yh? Ada banyak
pohon pinus.”
Mendengar
itu, hilman hanya bisa tertawa. Ntah kenapa, setiap kata yang keluar dari
mulutku selalu saja membuat bibirnya membentuk sebuah senyuman yang dibarengi
dengan Hahaha. Mungkin dia pikir aku lebih lucu daripada badut. Lebih konyol
dan lebih gilaa. Hahaha..
Pohon
pinus. Tinggi. Sama seperti hilman haha
Hilman. Terimakasih yaa.
;)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar