Senin, 21 Januari 2013

SHERINA




20 Januari 2013
Hari ini ntah bagaimana melukiskannya.
Terimakasih Ya Allah.
Terimakasih Hilman Erwin, Muh. Istiqlal Yunus dan Ninis Arevni untuk liburan dadakan ini.
Malino. Kota dingin.
Sebuah kota yang menceritakan banyak cerita. Cerita yang dipelopori 2 anak ababil dan 2 anak manusia yang merasa diababil-ababilkan oleh 2 anak ababil haha..
Malino.
Kota yang menyimpan senyum, tawa, dan bahagia.
Malam yang dingin. Pagi yang indah.. hujan romantic. Duduk manis.
“ bangun, ayo makan “ : hilman.
“ upi, bangun. Ayo makan. “ : ninis
“ makaaan , ayo makan “ : ila’
Me : sambil kucek-kucek mata. Makan yeheeiii..
Sambil menunggu makanannya datang, kami berempat bercerita bagaimana kami menghabiskan malam 19 januari. Kami bermain kartu hingga dini hari.
Sik asik makanannya datang. Dan indomie (lagi) tapi kali ini bukan nasi putih lagi yang jadi pasangannya. Sekarang indomie jalan sama nasi kuning. Oalah aku tidak mengerti bagaimana cara makannya. Indomie + nasi kuning. Nyambung di mana? Tapi sudahlah, hanya ada itu di sini. Makan sajalah.. #SelamatMakan ..
Tik tik tik. Hujan turun.
Hujan kali ini berbeda. Hujan kali ini lebih romantic.
Menunggu hujan reda di sebuah warung sambil menerawang jauh..
Di sini di kota ini.
Berawal sebuah cerita. Cerita tentang kami.
***

Langit terus menangis.
Hmm, perahu kertas. Perahu kertasku ingin berlabuh.
“ Petualangan SelvyHilmanERwinIlalNinisArevni “
Nus, perahu kertasku berlabuh di jalanan. Hehehe
Aku bahagia sekali, meskipun perahunya hanyut bukan berlabuh. Aku tetap tertawa.
Bermain hujan, melompat-lompat di jalanan. Menikmati semua..
Bebas .. lepasss..
hey, awas. Hati-hati. Hey, sudah mainnya . hujaaan
Suara itu, suara itu menghentikan jejak-jejak langkahku di bawah langit yang menangis. Aku seperti mendengar suara seorang bapak yang menegur putrinya bermain hujan di jalanan. Hmm aku masuk ke villa.
Di dalam villa, ke tiga anak manusia bersiap-siap pulang. Balik ke Makassar. Aku ikut membereskan semua barang-barang yang ikut kami liburan.
Sebelum balik, kami tentunya akan mampir dulu di beberapa tempat tetapi bukan kebun teh. Tempat yang sangat ingin aku kunjungi di kota ini.
“ kita tidak usah mampir di kebun teh yh? “
“ knp? “ L
“ barangkali kita sudah tdk punya uang naak “
“ iya, kita ke tempat yang lain saja yg tidak memungut biaya, yh? Kebun tehnya lain waktu saja”
Me : L iya pade. Tapi kita ke pohon pinus yh.
·         Pohon pinus ..
“ Hilman, kita seperti benar-benar di film petualangan SHERINA yh? Ada banyak pohon pinus.”
Mendengar itu, hilman hanya bisa tertawa. Ntah kenapa, setiap kata yang keluar dari mulutku selalu saja membuat bibirnya membentuk sebuah senyuman yang dibarengi dengan Hahaha. Mungkin dia pikir aku lebih lucu daripada badut. Lebih konyol dan lebih gilaa. Hahaha..
Pohon pinus. Tinggi. Sama seperti hilman haha

 Hilman. Terimakasih yaa.
;)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar